Jumat, 27 Agustus 2010

MENCEGAH PERILAKU SEKS YANG TIDAK SEHAT PADA REMAJA MELALUI PENDIDIKAN SEKS

 
Masa remaja adalah suatu tahap dalam perkembangan di mana seseorang mengalami perubahan-perubahan yang dramatis dari aseksual menjadi seksual. Perubahan-perubahan tersebut terutama ditandai oleh perkembangan karakteristik seks primer dan seks sekunder. Perkembangan karakteristik seksual kemudian menyebabkan perkembangan perilaku seks seperti tertarik pada lawan jenis dan keinginan untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seks pada remaja dapat mengarah pada problem yang serius jika perilaku tersebut diekspresikan secara tidak sehat atau tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Perilaku seks yang tidak sehat pada remaja merugikan remaja yang bersangkutan paling tidak didasarkan pada tiga pertimbangan.

Pertama, remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko besar untuk gagal dalam pendidikan sekolah. Perilaku seks seperti pacaran tidak menyebabkan remaja mengabaikan waktunya untuk belajar. Contoh kejadian diantaranya adalah tertangkapnya beberapa pelajar remaja, dengan memakai seragam sekolah, bersama pasangannya pada saat dilakukan razia pada jam sekolah di tempat-tempat rekreasi. Di samping banyak waktu untuk belajar yang hilang, gangguan dalam konsentrasi dalam belajar juga dapat terjadi.
Kedua, remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko mendapatkan sorotan tajam, cemoohan, bahkan sanksi lebih keras dari masyarakat. Jika hal ini sampai terjadi, citra buruk akan melekat pada remaja yang bersangkutan dan tentu manjadi hambatan dalam penyesuaian sosialnya.
Ketiga, remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko untuk mengalami kehamilan. Kehamilan yang tidak diharapkan tentu merugikan kedua belah pihak baik pihak laki-laki dan terutama pihak perempuan. Menurut Institut Alan Guttmacher (2003) kira-kira 60% remaja di dunia mengalami kehamilan yang tidak diharapkan. Sementara itu Billingham (1992) menyatakan “Pregnancy is the single most common cause of school dropout among girls; nearly 70% students fail to complete hing school”.
Keempat, remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko tinggi terinfeksi penyakit menular seksual. Gonorrhea, salah satu penyakit kelamin yang menular lewat hubungan seks. Remaja akan tertular gonorrhea jika dirinya berhubungan seks dengan seseorang yang sudah terinfeksi penyakit ini. HIV (human immunodeficiency virus), yang dikenal sebagai virus yang mematikan, karena sampai saat ini belum ditemuan obat untuk membasminya, menular antara lain juga melalui hubungan seks. Oleh karena itu hubungan seks dengan sembarang orang, terutama PSK beresiko tinggi untuk terinfeksi HIV/AIDS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai 60% dari mereka yang terinfeksi virus HIV adalah mereka yang berusia 20 tahun ke bawah (Alan Guttmacher Institut, 2003).

Gambaran tentang perilaku seks yang beresiko tinggi juga terjadi di Indonesia sebagaimana dipaparkan oleh Made Putri Ayu Rasmini (2008) berikut ini. Pada bulan April 2007 SMA Negeri 2 Denpasar bekerjasama dengan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) SMA Negeri 2 Denpasar dan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, mengadakan penelitian tentang perilaku seks remaja sekolah di Denpasar. Dari responden yang jumlahnya 766, terdapat 526 remaja yang menyatakan telah berperilaku seks seperti berpelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden  udah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi. Aktivitas seksual tersebut bisa dilakukan bersama teman, pacar, seseorang atau beberapa orang tanpa status yang jelas, bahkan dengan pekerja seks komersil (PSK). Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa dari 766 responden ternyata 103 orang pernah melakukan hubungan seksual dan bahkan 49 orang di antaranya melakukan hubungan seksual dengan PSK (Made Putri Ayu Rasmini, 2008).
Bahwa perilaku seks yang tidak sehat mengancam masa depan, kesehatan, dan keselamatan remaja juga dipaparkan oleh Made Putri Ayu Rasmini. Dalam konteks ini Rasmni menyatakan: ”Jika saat ini remaja tersebut berusia 16 atau 17 tahun mereka melakukannya tanpa kondom, bisa jadi mereka akan tertular infeksi menular seksual (IMS) atau parahnya human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab acquired immune deficiency syndrome (AIDS), maka dengan masa inkubasi sekitar 5-10 tahun dapat diprediksikan mereka baru ketahuan tahu mengidap HIV kira-kira di usia 22 atau 27 tahun ketika mulai memasuki fase AIDS, padahal ini usia yang sangat produktif.” Resiko remaja terinfeksi virus HIV sangat besar jika mereka berhubungan seks dengan PSK. Menurut Prof. Wimpie P. di Denpasar, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, dan 120 pekerja seksual.

Pendidikan Seks Sebelum Remaja Merupakan Kebutuhan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seks yang tidak sehat pada remaja merugikan masa depan dan kesehatan, bahkan keselamatan mereka. Oleh karena itu perilaku ini harus dicegah. Berdasarkan pendapat para ahli seperti Singgih D. Gunarso, Sarwono, dan Forest, serta hasil penelitian, diantaranya penelitian tentang hubungan pendidikan seks sejak dini dengan perilaku seks pada remaja di SMA Tunas Harapan Bandar Lampung tahun 2007, pendidikan seks merupakan pilihan yang tepat untuk mencegah fenomena tersebut. Sebagai upaya pencegahan, pendidikan seks harus sudah diberikan kepada individu sebelum menginjak remaja.
Untuk mencapai tujuan pendidikan seks secara benar, beberapa aspek tentang pendidikan seks harus dipertimbangkan secara matang. Pertama, apakah pendidikan seks itu? Kedua, apakah tujuan dari pendidikan seks? Ketiga, mulai kapan sebaiknya pendidikan seks diberikan? Keempat, bagaimana sebaiknya pendidikan seks diberikan, Kelima, materi apa saja yang sebaiknya atau seharusnya diberikan dalam pendidikan seks? Keenam, siapa yang seharusnya memberikan pendidikan seks?
Salam Ikhlas Tizar Rahmawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Anda menuliskan komentar Anda tentang tulisan diatas di sini