Sabtu, 28 Agustus 2010

Kisah Ke-2 Racun Berbalut Madu

Aku dilahirkan bukan untuk jadi sampah masyarakat. Namun keluarga dan lingkungan memaksaku menjadi sampah. Dalam kehancuran aku sadar, masa depan ditentukan oleh diriku sendiri.
Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Waktu aku SD saudara-saudaraku telah menikah dan pindah rumah. Sekalipun uang bukan masalah, namun kehidupanku ibarat anak gembel. Aku besar dalam keluarga berantakan. Ibu sibuk dengan urusan pribadinya ayah asyik dengan karirnya. Sementara aku hidup sebatang kara. Rumah mewah yang aku diami tak lebih dari kuburan yang sepi.
Aku diberi rekening bank tersendiri oleh ayah yang jumlahnya sangat besar untuk ukuran anak ingusan sepertiku. Uang itu setiap bulan ditambah oleh ayah dengan jumlah yang cukup besar. Apalagi jika tahu aku harus membayar ujian atau EBTA, transfer itu bisa sangat besar. Dimaksudkan agar keperluanku terpenuhi baik uang sekolah, jajan, maupun pakaian dan aku tidak boleh meminta lagi secara langsung.
Perkenalanku dengan minuman keras sejak SMP kelas II. Sejak kelas I aku telah merokok. Saat itu tak sengaja aku menemukan botol aneh di kamar teman yang juga orang berada. Aku disuruhnya mencoba untuk menghilangkan stres. Awalnya tidak enak, namun lama-kelamaan aku ketagihan. Namun lambat-laun minuman itu kurang berkesan, selain mudah diketahui orang tua, juga baunya dapat dihirup orang lain.
Suatu saat salah seorang teman saya menawarkan lintingan semacam rokok yang ternyata ganja. Perkenalanku dengan ganja membuatku mabuk kepayang karena barang itu mengasyikkan dan bisa membawaku terbang (fly). Namun saat aku ingin mencoba lagi, barang tidak ada karena bandar sekaligus pengedarnya tertangkap polisi. Aku kembali lagi ke miras dan mencoba berbagai jenis.
Ayah mengetahui perilaku burukku. Pertengkaran besar antara ayah dan ibu kembali terulang, keduanya saling menyalahkan. Bahkan ayah menyalahkan sekolah yang dianggapnya tidak mampu mendidik yang benar. Uang jajan akhirnya dibatasi dan ayah mengawasiku dengan ketat. Namun karena kesibukannya akhirnya aku bebas kembali.
Perkenalanku dengan heroin saat pesta kenaikan kelas dari kelas II ke kelas III. Saat itu di salah satu rumah temanku, aku diajari nyepet (tatacara memasukkan suntikan)
sekaligus aku diberi sebungkus kecil heroin. Menurutku barang ini lebih gila dari ganja dan shabu-shabu. Heroin jenis putaw itu memberiku fantasi yang lebih mengasyikkan dan cukup tahan lama.
Lambat-laun aku kecanduan. Heroin itu menjadi menu wajib bagiku, karena jika sekali saja tidak ada, aku bisa menderita (sakau). Untuk mendapatkannya, aku biasa mangkal di salah satu diskotek kota Bandung. Di sana telah menunggu pengedar langgananku. Sekaligus aku juga bisa menjumpai wanita spesialku. Jika dihitung-hitung, sehari aku bisa menghabisakan uang 2 juta rupiah; untuk putaw kurang lebih 300 ribu rupiah, bayar hotel dan biaya sewa kopyor untuk longtime (semalam suntuk). Belum lagi jika mentraktir teman, akubisa menghabiskan 3 juta rupiah sampai 4 juta rupiah sehari. Tapi uang bagi kubukan masalah. Hampir setiap malam Minggu aku rutin ke tempat itu dan nginap di hotel. Khusus untuk malam Minggu ayah memberi kebebasan untuk ke luar rumah sampai kapan pun, asal Minggu sore harus kelihatan di rumah lagi.
Miras, ganja, heroin, shabu-shabu, dan ecstasy telah aku coba. Hotel-hotel telah aku singgahi. Kopyor (sebutan untuk wanita muda kaya yang kesepian) telah banyak aku nikmati. Namun tempat ini masih asing bagiku. Infus di samping kiriku dan berbagai peralatan kedokteran siap di
samping kananku. Samar-samar aku lihat dokter tengah bincang-bincang dengan kakakku, tak lama kemudian aku lihat ayah dan ibu bersandar di dinding. Tapi aku tak bisa bergerak, tatapan mataku kosong, mulutku tertutup rapat, dan seluruh tubuhku sangat kaku.
Lama-kelamaan kesadaranku mulai pulih, aku overdosis heroin. Menurut suster, aku dibawa ke rumah sakit ini oleh teman-teman sekolahnya. Aku baru ingat, saat itu aku tengah pesta perpisahan dengan teman-teman sekolahanku di rumah Rudi teman dekatku.
Pesta perpisahan itu sebenarnya terlalu dini karena siapa saja yang lulus belum diumumkan. Aku baru sadar, aku tengah berada di kondisi yang sangat gawat. Teman-teman mengira aku sudah mati karena mulutku terus berbusa. Sebulan menjalani perawatan, namun dokter belum memastikan kesembuhanku. Inginnya aku berlari, namun tubuhku kaku.
Dua bulan aku dirawat selanjutnya dipindahkan ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Setelah cukup pulih, aku dititipkan di salah satu lembaga terapi ketergantungan obat terlarang. Dari semenjak masuk rumah sakit hingga singgah di tempat terapi ini menghabiskan waktu 10 bulan. Akhirnya aku pulang dalam pengawasan ketat seluruh keluargaku.
Di rumah aku meminta maaf pada seluruh keluargaku terutama ayah dan ibu karena telah merepotkan mereka. Sebelumnya ayah sempat marah-marah karena aku merusak nama baik keluarga dan menghancurkan masa depan sendiri.
Aku sadari, miras dan obat-obat terlarang itu telah merenggut semuanya dariku. Tubuhku hancur terutama memori otakku telah cacat dan sulit disembuhkan. Masa depanku tidak jelas, aku dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang kelas III, itu juga tidak di sekolah itu lagi (kasarnya aku dikeluarkan). Aku tidak memiliki teman lagi. Terakhir, seluruh keluargaku menanggung beban yang cukup berat. Ayah sebagai anggota dewan salah satu parpol, merasa dipermalukan.
Hampir saja aku putus asa, tapi kakakku yang kedua kebetulan sebagai dosen memberi semangat hidup kepadaku. Kini aku tinggal di rumahnya dan mendapat bimbingan masa depan sekaligus mengisi hatiku dengan iman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Anda menuliskan komentar Anda tentang tulisan diatas di sini