Senin, 30 Agustus 2010

Kisah Ke-5 Nikah Sirri, Awal Derita Berkepanjangan

Terutama bagi orang tua, resepsi pernikahan anak adalah suatu kebanggaan. Saat resepsi itulah segenap kasih-sayang orang tua tertumpahkan. Iringan rombongan calon pengantin pria adalah pemandangan yang membuat iri penonton. Pernikahan ini di sebagian masyarakat tidak boleh dilakukan sebelum kedua belah pihak merampungkan studynya.
Sama halnya dengan orang tuaku yang mewanti-wanti tidak membolehkan aku nikah sebelum menyelesaikan study. Padahal aku adalah seorang wanita yang layak nikah segera jika usia telah memungkinkan tanpa harus menunggu rampung study. Namun aku telah memusnahkan impian orang tua itu, aku memilih jalan lain.
Saya lahir dari keluarga baik-baik dan penganut Islam yang taat. Sejak kecil aku dididik dengan pendidikan agama yang ketat. Sebagai seorang muslimah, saya sangat takut jika terjerumus pada lembah dosa. Maka ketika hubungan kami
dalam titik rawan, maka kami membuat keputusan berdua tanpa campur tangan orang tua. Tapi pengalaman ini memang sangat pahit.
Saat aku kuliah tingkat tiga, saat itu usiaku kurang lebih 21 tahun aku menikah dengan seorang kakak tingkat yang usianya lebih tua dua tahun dari saya. Sebelumnya kami telah berpacaran kurang lebih dua tahun. Pernikahan kami tidak diketahui oleh orang tua karena kami ingin pernikahan ini hanya kami berdua yang menjalani. Sebab orang tua tidak mengizinkan kami menikah sebelum study beres.
Pernikahan kami hanya disaksikan oleh empat orang rekan kami, kami melakukan ijab-kabul di bawah tangan atau tanpa sepengatahuan pihak Catatam Sipil. Pernikahan model ini sering disebut nikah sirri atau nikah bawah tangan.
Pernikahan ini terpaksa kami lakukan karena kami takut terjerumus pada perzinahan mengingat hubungan spesial kami telah berlangsung dua tahun. Selama ini juga kami telah melakukan banyak dosa sekalipun tidak sampai hubungan intim. Pernikahan ini sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan kami berdua. Jika study sudah usai, kami akan melangsungkan pesta pernikahan seolah kami belum pernah menikah.
Kami sepakat untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Semula berjalan lancar-lancar saja, namun ternyata saya
terlambat haidl. Saya lupa melihat tanggal, seharusnya saya sudah disuntik KB lagi pada bulan itu, namun lupa karena saking sibuknya study. Setelah ditest ternyata positif hamil. Dalam keadaan bingung ini muncul ingin menggugurkan kandungan, namun tidak mungkin. Akhirnya kami jalani saja, yang terpenting saat pulang ke rumah orang tua, saya bisa menyembunyikannya.
Kandungan semakin besar, jika nanti melahirkan pasti membutuhkan biaya besar. Sedangkan saat melahirkan nanti saya lagi sibuk-sibuknya KKN dan suami lagi sibuk menyusun skripsi. Untuk biaya KKN dan skripsi saja tabungan kami semakin menipis. Maka saya yang mengalah, semester itu saya cuti dulu. Akhirnya selamat juga, jabang bayi itu lahir.
Entah kabar dari siapa atau mungkin hanya firasat, saat saya melahirkan orang tua ternyata datang ke tempat kost karena selama empat bulan tidak pulang. Tak terkira kagetnya ibu melihat saya melahirkan. Sumpah serapah ayah tumpah semua pada kami. Suami kami berusaha menjelaskan namun semuanya tidak berarti.
Akhirnya mereka pulang lagi dengan membawa segudang kekecewaan. Tinggallah kami berdua yang bingung. Jika pulang kami takut karena ibu menganggapku kumpul kebo.
Lagipula mereka tidak berharap aku pulang karena akan merusak kehormatan keluarga. Setelah itu, tidak ada keluargaku yang menengok padahal setelah melahirkan aku jatuh sakit.
Permasalahanku bertambah, katika aku sakit suamiku tak mampu melanjutkan penyusunan skripsi karena konsentrasi terganggu. Puncaknya ketika sakitku kambuh lagi dan harus dirawat di rumah sakit, ASI kering dan terpaksa anakku harus minum susu botol. Biaya jelas bertambah, padahal utang untuk bayar rumah sakit saja belum dibayar. Pasca aku sembuh, anakku giliran sakit, mungkin akibat tidak cocok susu atau sanitasi kamar kostku kurang memadai. Tak lama kemudian anakku meninggal. Aku sangat terpukul. Baru kali ini aku ditimpa beban yang begitu berat.
Aku mulai terguncang. Semangat belajarku musnah apalagi dana dari orang tua sudah lama terhenti. Akibatnya aku tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah, padahal tinggal dua semester lagi. Dengan sangat menyesal kembali aku cuti satu semester. Sementara itu skripsi suamiku pun tak kunjung selesai karena biaya tidak memadai.
Tubuhku makin kurus termakan oleh masalah yang bertubi-tubi. Akibatnya aku kembali jatuh sakit. Dengan penuh rasa bersalah saya menelphon keluarga di rumah
karena saya dirawat lagi di rumah sakit, kali ini cukup gawat. Akhirnya datang kakak saya. Saat itu juga saya dibawa ke Sukabumi. Sementara suamiku tidak diperbolehkan ikut karena dianggap kurang ajar.
Dalam keadaan sakit aku masih juga menerima berbagai sumpah serapah dari orang tua. Padahal sebelumnya aku menceritakan tentang musibah yang menimpa yaitu meninggalnya anak kami. Namun nampaknya semua tak peduli karena aku dianggap anak durhaka. Yang membuatku makin parah, suamiku tidak ada di sampingku. Setelah dua bulan tak berdaya akhirnya berangsur-angsur aku sembuh.
Rencananya aku akan masuk kampus lagi, namun orang tua telah memutuskan agar aku tidak kembali ke kampus. Aku ceritakan tentang pernikahan kami, namun orang tua tidak mengakuinya sebagai pernikahan yang sah dan aku disuruh merahasiakan pernikahan itu atau anggap tidak pernah terjadi.
Aku berusaha menelpho suamiku ke kampus, namun pihak kampus menyatakan bahwa dia telah menyatakan pindah ke kampung halamannya di Palembang. Yang membuatku kaget, aku menemukan surat cerai di atas segel yang ditandatangani oleh suami saya dan saya diwakili oleh kakak saya. Ternyata saat saya sakit, suami saya ditekan
untuk tidak lagi mengganggu saya. Dan dia dipaksa untuk menandatangani surat cerai. Pupus sudah pernikahan itu. Aku kasihan pada suami yang tentu saja menanggung beban sangat berat. Hingga saat ini aku tak tahu kabarnya.
Dua tahun kemudian, akhirnya aku menikah lagi, namun tidak lama aku bercerai karena dianggap tidak perawan lagi padahal dalam surat nikah disebutkan aku gadis. Kini aku sendiri, mungkin takkan pernah menikah lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Anda menuliskan komentar Anda tentang tulisan diatas di sini