Tampilkan postingan dengan label cerita remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita remaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

ULASAN kisah ke-7 Godaan Syetan Sejengkal demi Sejengkal

Kisah Ke-3
Sesal kemudian tidak ada artinya. Namun memang tidak ada penyesalan di depan. Semuanya telah terjadi, tinggal kini menerima akibat dari perilaku bejat itu. Kisah ini menunjukkan bahwa untuk terjerumus pada kemunkaran jalannya setapak demi setapak atau selangkah demi selangkah. Juga mereka yang datang dari keluarga baik-baik, tidak menjamin menjadi baik jika lingkungannya tidak baik.
Idealnya jika tahu dirinya akan dijerumuskan pada perbuatan dosa, maka harus menghindar dari lingkungan (rumah) itu, namun yang terjadi malah dia sendiri lantas menikmati perzinaan itu. Maka ketika dia menghindar, itu menjadi tidak berarti karena perzinaan itu telah berlangsung lebih setahun.
Sementara itu impotensi yang dialaminya, tidak lain akibat derita psikis yang berlarut-larut yaitu perasaan dosa yang mendera selama bertahun-tahun. Dunia kedokteran pun mengakui, penderita impotensi (disfungsi ereksi) kebanyakan bukan disebabkan faktor fisik melainkan psikis seperti kasus di atas.
Terapi yang harus dijalani tentu bukan terapi fisik melainkan harus terapi psikis. Karena itu sekalipun memakai obat kejantanan, baik yang diminum maupun yang dioleskan secara over, tidak akan berdampak apa-apa karena panyekitnya bukan pada fisik. Bahkan justru obat-obat itu akan semakin merusak kejiwaannya setelah terbukti obat itu tidak menyembuhkannya; dia semakin tidak yakin dirinya akan sembuh.
Kasus-kasus perceraian akibat impotensi ini cukup banyak. Umumnya si penderita kurang terbuka, akibatnya tidak banyak yang memberikan masukan. Sebaliknya si isteri hakekatnya merasa dirugikan dengan kondisi suami seperti itu. Idealnya secara Islam laki-laki kotor seperti pada kisah di atas, tidak layak nikah dengan wanita yang baik-baik.
“Umar bin Khatab berkata tentang suami yang lemah syahwat, dia beri tempo setahun. Jika sembuh, perkawinan bisa diteruskan dan jika tidak, si isteri diceraikan dan mendapat mahar serta harus beriddah.” (H.R. Baihaqi).
Dan laki-laki pezina tidak layak kawin kecuali dengan perempuan-perempuan pezina atau musyrikah, dan perempuan-perempuan pezina pun tidak layak kawin kecuali dengan laki-laki pezina atau musyrik.” ( Q.S. an-Nur: 3).
“Wanita-wanita yang keji diperuntukkan bagi laki-laki yang keji. (Sebaliknya) laki-laki yang keji diperuntukkan bagi wanita yang keji. Dan wanita yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik. (Sebaliknya) laki-laki yang baik diperuntukkan bagi wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26).
Karena itu selektif saat menentukan pasangan adalah langkah bijaksana. Bahkan dalam hal pemilihan calon isteri Rasulullah tidak membolehkan mengawini wanita-baik-baik tapi berada di lingkungan yang tidak baik, begitu juga sebaliknya. Faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, dan karena lingkungan itu dia menjadi terjerumus.

Senin, 30 Agustus 2010

Kisah Ke-6 Saat Aku Terlena

Sebenarnya aku malu mengungkapkan kisah ini, tapi sekedar ibrah buat yang lain, aku ungkapkan apa adanya. Kisah ini bersifat pribadi bukan keumuman. Aku yakin hanya aku yang mengalami kejadian tragis ini, wanita berjilbab lainnya insyaallah bisa menjaga diri.
Aku lahir dari keluarga taat beribadah. Sekalipun ibu dan ayah bukan mubaligh atau ustadz, namun kehidupan keluarga selalu diliputi suasana keagamaan. Aku anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak pertama laki-laki dan kedua perempuan serta adik semuanya laki-laki.
Aku anak bandel di keluarga. Jilbabku tidak layak disebut jilbab; ketat, kadang transparan. Entah terbawa pergaulan sejak SLTP, aku menjadi tomboy. Walaupun demikian, aku anak penurut, tak pernah membantah jika disuruh orang tua. Kewajiban lima waktu tak pernah terlewatkan. Setiap ada kegiatan positif tak ketinggalan. Aku pandai jaga diri. Sekalipun tomboy, aku bukan wanita murahan. Prestasi sekolah pun tak mengecewakan, walau tak pernah ranking pertama, aku selalu masuk enam besar.
Aku juga tampikan (tidak mudah menerima cinta laki-laki). Banyak laki-laki yang cintanya aku tolak. Aku sangat selektif. Saat SMU kelas III baru aku resmi menjalin cinta dengan seorang teman seangkatan, namun beda kelas. Dia orangnya baik dan pintar. Saat jalan berdua, dia tak pernah berbuat macam-macam.
Namun keimanan seseorang ada batasnya. Semula kami tidak berani saling pegangan tangan, akhirnya terbiasa. Awalnya merasa dosa, namun akhirnya tidak. Lambat-laun aku sering jalan-jalan bergandengan, awalnya memang takut dosa, namun akhirnya terbiasa. Sedikit demi sedikit pergaulan kami meningkat ke arah yang membahayakan. Namun saya masih bisa menjaga diri.
Saat tidak ada seorang pun di rumah, aku kadang berani digendong. Awalnya menolak, namun akhirnya terbiasa. Syetan terus menghembuskan nafsu birahi pada kami berdua sehingga kadang kami mengalami cinta berat dan kerinduan yang sangat mendalam, saat bertemu selalu diawali dengan saling dekapan. Berdekapan pertama kali kami lakukan tidak sengaja ketika di tempat wisata dia mengucapkan selamat atas kelulusanku.
Tamat SMU aku mengambil D-1 PGTK sedangkan dia melanjutkan S-1 di salah satu PTN di Bandung. Pertemuan kami paling seminggu sekali, kadang juga
seminggu dua kali. Kerinduan yang memuncak menyebabkan kami saling melepas rindu, hal-hal yang dilarang terbiasa kami lakukan.
Akibat pacaran dan pertemuan rutin, apalagi pertemuan itu umumnya dilakukan berduaan, tanpa sepengetahuan orang lain, menyebabkan kami makin permisif. Awalnya kami marah saat dia menciumku, namum dia pandai merayu menyebabkan aku terlena dan terbiasa. Lama kelamaan tak segan buka kerudung di hadapan dia.
Syetan telah manjadikan aku budaknya sehingga sedikit demi sedikit menjerumuskan aku tanpa aku sadari. Ironisnya, menampakkan aurat yang merupakan dosa besar, bagiku menjadi hal biasa dilakukan di depan pacar. Maka benar, apa kata ustadz bahwa syetan menjerumuskan anak manusia sejengkal demi sejengkal. Lagi pula pacaran memang tidak menguntungkan.
Pernah suatu waktu aku ingin segera bertunangan, dia malah diam. Katanya terlalu dini, Belum dapat kerja dan masih kuliah. Kondisi kami saat itu bukan lagi anak remaja, tapi sudah sangat dewasa. Apalagi kami sudah hampir menjurus pada perzinaan. Lulus D-1, pacaran terus berjalan bahkan pertemuannya lebih rutin. Kadang kami bertemu di mall atau di tempat wisata. Sementara bertemu di rumah jika keadaan memungkinkan.
Hari minggu, orang tua mengajak berwisata, saya memilih tinggal di rumah. Alasannya tidak berminat, tempat wisata itu terlalu sering disinggahi. Aku telephon dia agar menemaniku. Tentu saja dia mau. Aku berdua di rumah menumpahkan segala kerinduan. Obrolan kami sangat romantis. Saya bermanja-manjaan. Kadang juga pengen digendong. Kami berdua terlelap dalam nafsu birahi, darah telah sampai ubun-ubun, Saya seolah di alam surga yang sangat indah dan menikmati selaksa keindahan itu. Terjadilah kenistaan yang ke luar dari batas kewajaran. Saya kehilangan harga diri sebagai wanita. Saya sadar ketika semuanya telah selesai. Saya nangis dan memukul-mukul dia, berkali-kali dia minta maaf.
Saat itu dia bergegas pulang, takut keluarga keburu pulang. Saat aku buang air kecil, merasakan sakit di sekitar vagina. Muncul perasaan takut yang sangat. Saya telah melakukan dosa besar. Bagaimana jika hamil? Bagaimana jika orang tua tahu? Dan beribu pertanyaan lainnya menghantuiku.
Seminggu itu saya sering melamun. Muncul rasa benci pada pacarku yang telah menodaiku, tapi aku sangat mencintainya. Saat aku bingung dia nelphon, berkali-kali dia minta maaf dan pasti jika terjadi sesuatu akan bertanggung jawab penuh.
Apa yang aku takutkan memang terjadi. Aku terlambat bulan, bahkan sudah menginjak bulan kedua. Aku suruh dia beli alat pengetes kehamilan, hasilnya menunjukkan garis dua merah, menandakan positif hamil Aku stress berat. Malam sulit tidur. Dia juga katanya begitu.
Sebelum semuanya benar-benar gawat, kami memberanikan diri untuk segera dinikahkan. Sebenarnya orang tua kami berdua telah lama mendesak agar kami segera menikah. Kami sepakat untuk merahasiakan bayi dalam kandungan. Dua bulan kemudian kami menikah, saat itu usia kandunganku sekitar tiga bulan.
Namun aneh, akhir bulan ketiga aku keluar darah, tepatnya lima hari setelah pernikahan. Darah yang keluar tidak seperti biasa, kali ini sangat banyak. Mungkin aku keguguran. Ketika aku bilang pada orang tua bahwa aku berdarah, dia malah memandangku sambil tertawa. Katanya itu biasa. Ibuku menyangka itu darah malam pertama.
Akhirnya memang aku keguguran, bulan berikutnya aku haidl. Keguguran itu disebabkan aku sangat capek saat pernikahan, siang malam menerima tamu. Tapi kejadian ini membuatku lega, suamiku bahkan sujud syukur. Dia lebih sayang lagi ketika tiga bulan setelah pernikahan aku hamil.
Walaupun masih numpang di rumah orang tua, tapi rumah tangga kami bahagia. Cinta yang menyebabkan kami saling menyayangi dalam kondisi apapun. Namun perasaan berdosa tidak pernah hilang dalam ingatan kami.

ULASAN Kisah Ke-5 Nikah Sirri dan Birrul Walidain

 Kisah Ke-3
Memang benar, pernikahan anak adalah suatu kebanggaan dan kebahagiaan tersediri bagi orang tua. Saat resepsi itulah segenap kasih-sayang orang tua tertumpahkan. Namun jika sebaliknya, maka betapa sakitnya hati orang tua melihat anaknya melakukan kenekadan yang sungguh di luar batas. Terlepas pertimbangan si anak, namun bagi orang tua ini suatu pelecehan terhadap keberadaan dirinya sebagai orang tua.
“Dan kami amanatkan kepada manusia terhadap kedua orang tuanya, ibunya yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Kepada-Kulah kamu kembali.” (QS. Luqman: 14).
“Kami perintahkan pada manusia supaya berbuat baik terhadap kedua orangtuanya. Ibu yang mengandungnya dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah pula. Mengandung sampai menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya telah sampai 40 tahun, ia berdo’a: “Ya , Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri
nikmat-Mu, yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai. Dan berilah kabahagiaan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).
Dalil-dalil ini mengisyaratkan kewajiban berbuat baik terhadap orang tua. Terlebih lagi dalam hal nikah, maka orang tua yang paling berhak mengadakan pesta walimah nikah itu. Dalam kisah ini seolah nasi sudah menjadi bubur, orang tua sudah kehilangan momentum untuk merayakan pernikahan anaknya. Dipandang dari sudut ini pelaku nikah sirri pada kisah di atas sudah melakukan dosa.
Lantas dengan alasan untuk menghindari perzinaan hakekatnya bisa diselesaikan dengan banyak hal di antaranya kompromi terlebih dahulu dengan orang tua. Jika ternyata tidak diizinkan, maka bisa menempuh jalan yang diridlainya yaitu dengan menjaga kesucian diri sampai waktunya nikah nanti. Menjaga kesucian ini banyak ragamnya di antaranya menghindari khalwat dan ikhtilat.
“Dan orang-orang yang belum mampu nikah, hendaklah menjaga kesucian dirinya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunianya…” (QS. An-Nur : 23).
Orang tua sendiri dalam hal ini mesti bersikap arif, antara study dengan nikah bukan dua hal yang bertentangan. Justru jika anak sudah kelihatan dekat dengan lawan jenisnya, maka orang tua sendiri, harus ikut mendorong mereka menuju pernikahan. Study jangan dijadikan kendala karena jika terjerumus ke lembah perzinaan atau lantas anak mengambil jalan pintas dengan nikah sirri, maka kerugiannya akan lebih besar. Jika masalah materi dalam rumah tangga, bisa dibantu terlebih dahulu oleh orang tua sambil anaknya sendiri berpikir untuk memiliki penghasilan sendiri.
Ini memang tidak mudah, namun jika prioritas mencapai madlatillah yaitu menyelamatkan anak dari khalwat, ikhtilat dan perzinaan, maka semuanya menjadi mudah. Wallaua’lam bishawab.
Salam Ikhlas Tizar Rahmawan

Kisah Ke-5 Nikah Sirri, Awal Derita Berkepanjangan

Terutama bagi orang tua, resepsi pernikahan anak adalah suatu kebanggaan. Saat resepsi itulah segenap kasih-sayang orang tua tertumpahkan. Iringan rombongan calon pengantin pria adalah pemandangan yang membuat iri penonton. Pernikahan ini di sebagian masyarakat tidak boleh dilakukan sebelum kedua belah pihak merampungkan studynya.
Sama halnya dengan orang tuaku yang mewanti-wanti tidak membolehkan aku nikah sebelum menyelesaikan study. Padahal aku adalah seorang wanita yang layak nikah segera jika usia telah memungkinkan tanpa harus menunggu rampung study. Namun aku telah memusnahkan impian orang tua itu, aku memilih jalan lain.
Saya lahir dari keluarga baik-baik dan penganut Islam yang taat. Sejak kecil aku dididik dengan pendidikan agama yang ketat. Sebagai seorang muslimah, saya sangat takut jika terjerumus pada lembah dosa. Maka ketika hubungan kami
dalam titik rawan, maka kami membuat keputusan berdua tanpa campur tangan orang tua. Tapi pengalaman ini memang sangat pahit.
Saat aku kuliah tingkat tiga, saat itu usiaku kurang lebih 21 tahun aku menikah dengan seorang kakak tingkat yang usianya lebih tua dua tahun dari saya. Sebelumnya kami telah berpacaran kurang lebih dua tahun. Pernikahan kami tidak diketahui oleh orang tua karena kami ingin pernikahan ini hanya kami berdua yang menjalani. Sebab orang tua tidak mengizinkan kami menikah sebelum study beres.
Pernikahan kami hanya disaksikan oleh empat orang rekan kami, kami melakukan ijab-kabul di bawah tangan atau tanpa sepengatahuan pihak Catatam Sipil. Pernikahan model ini sering disebut nikah sirri atau nikah bawah tangan.
Pernikahan ini terpaksa kami lakukan karena kami takut terjerumus pada perzinahan mengingat hubungan spesial kami telah berlangsung dua tahun. Selama ini juga kami telah melakukan banyak dosa sekalipun tidak sampai hubungan intim. Pernikahan ini sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan kami berdua. Jika study sudah usai, kami akan melangsungkan pesta pernikahan seolah kami belum pernah menikah.
Kami sepakat untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Semula berjalan lancar-lancar saja, namun ternyata saya
terlambat haidl. Saya lupa melihat tanggal, seharusnya saya sudah disuntik KB lagi pada bulan itu, namun lupa karena saking sibuknya study. Setelah ditest ternyata positif hamil. Dalam keadaan bingung ini muncul ingin menggugurkan kandungan, namun tidak mungkin. Akhirnya kami jalani saja, yang terpenting saat pulang ke rumah orang tua, saya bisa menyembunyikannya.
Kandungan semakin besar, jika nanti melahirkan pasti membutuhkan biaya besar. Sedangkan saat melahirkan nanti saya lagi sibuk-sibuknya KKN dan suami lagi sibuk menyusun skripsi. Untuk biaya KKN dan skripsi saja tabungan kami semakin menipis. Maka saya yang mengalah, semester itu saya cuti dulu. Akhirnya selamat juga, jabang bayi itu lahir.
Entah kabar dari siapa atau mungkin hanya firasat, saat saya melahirkan orang tua ternyata datang ke tempat kost karena selama empat bulan tidak pulang. Tak terkira kagetnya ibu melihat saya melahirkan. Sumpah serapah ayah tumpah semua pada kami. Suami kami berusaha menjelaskan namun semuanya tidak berarti.
Akhirnya mereka pulang lagi dengan membawa segudang kekecewaan. Tinggallah kami berdua yang bingung. Jika pulang kami takut karena ibu menganggapku kumpul kebo.
Lagipula mereka tidak berharap aku pulang karena akan merusak kehormatan keluarga. Setelah itu, tidak ada keluargaku yang menengok padahal setelah melahirkan aku jatuh sakit.
Permasalahanku bertambah, katika aku sakit suamiku tak mampu melanjutkan penyusunan skripsi karena konsentrasi terganggu. Puncaknya ketika sakitku kambuh lagi dan harus dirawat di rumah sakit, ASI kering dan terpaksa anakku harus minum susu botol. Biaya jelas bertambah, padahal utang untuk bayar rumah sakit saja belum dibayar. Pasca aku sembuh, anakku giliran sakit, mungkin akibat tidak cocok susu atau sanitasi kamar kostku kurang memadai. Tak lama kemudian anakku meninggal. Aku sangat terpukul. Baru kali ini aku ditimpa beban yang begitu berat.
Aku mulai terguncang. Semangat belajarku musnah apalagi dana dari orang tua sudah lama terhenti. Akibatnya aku tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah, padahal tinggal dua semester lagi. Dengan sangat menyesal kembali aku cuti satu semester. Sementara itu skripsi suamiku pun tak kunjung selesai karena biaya tidak memadai.
Tubuhku makin kurus termakan oleh masalah yang bertubi-tubi. Akibatnya aku kembali jatuh sakit. Dengan penuh rasa bersalah saya menelphon keluarga di rumah
karena saya dirawat lagi di rumah sakit, kali ini cukup gawat. Akhirnya datang kakak saya. Saat itu juga saya dibawa ke Sukabumi. Sementara suamiku tidak diperbolehkan ikut karena dianggap kurang ajar.
Dalam keadaan sakit aku masih juga menerima berbagai sumpah serapah dari orang tua. Padahal sebelumnya aku menceritakan tentang musibah yang menimpa yaitu meninggalnya anak kami. Namun nampaknya semua tak peduli karena aku dianggap anak durhaka. Yang membuatku makin parah, suamiku tidak ada di sampingku. Setelah dua bulan tak berdaya akhirnya berangsur-angsur aku sembuh.
Rencananya aku akan masuk kampus lagi, namun orang tua telah memutuskan agar aku tidak kembali ke kampus. Aku ceritakan tentang pernikahan kami, namun orang tua tidak mengakuinya sebagai pernikahan yang sah dan aku disuruh merahasiakan pernikahan itu atau anggap tidak pernah terjadi.
Aku berusaha menelpho suamiku ke kampus, namun pihak kampus menyatakan bahwa dia telah menyatakan pindah ke kampung halamannya di Palembang. Yang membuatku kaget, aku menemukan surat cerai di atas segel yang ditandatangani oleh suami saya dan saya diwakili oleh kakak saya. Ternyata saat saya sakit, suami saya ditekan
untuk tidak lagi mengganggu saya. Dan dia dipaksa untuk menandatangani surat cerai. Pupus sudah pernikahan itu. Aku kasihan pada suami yang tentu saja menanggung beban sangat berat. Hingga saat ini aku tak tahu kabarnya.
Dua tahun kemudian, akhirnya aku menikah lagi, namun tidak lama aku bercerai karena dianggap tidak perawan lagi padahal dalam surat nikah disebutkan aku gadis. Kini aku sendiri, mungkin takkan pernah menikah lagi.

Minggu, 29 Agustus 2010

Nikah Antaragama (ULASAN Kisah ke-4)

Islam mengharamkan seorang muslimah menikah dengan laki-laki musyrik dan non Islam baik dari kalangan Ahli Kitab atau dari agama lainnya.
Firman Allah swt.:
“Dan janganlah kamu kembalikan mereka (mukminat) kepada orang-orang kafir. Mereka (mukminat) tidak halal bagi mereka (laki-laki kafir)....” (QS. Al Mumtahanah: 10).
Umar bin Khatab menegaskan:
“Seorang laki-laki muslim halal nikah dengan wanita Nasrani, tetapi wanita muslimah haram nikah dengan laki-laki Nasrani.” (HR. Abdur Razaq).
Sebagian ulama berpendapat, dibolehkannya laki-laki nikah dengan wanita ahli kitab karena posisi laki-laki dalam rumah tangga lebih berkuasa sehingga diharapkan bisa mengislamkan isterinya. Sebaliknya kenapa wanita tidak boleh? Karena wanita lemah, sulit membawa suami untuk memeluk Islam. Hal ini berarti jika laki-laki lemah dan kemungkinan justru akan terbawa oleh agama isterinya, maka
sebaiknya tidak nikah dengan wanita kafir, dalam kondisi ini sebagian ulama justru mengharamkannya.
Adapun laki-laki boleh menikah dengan wanita Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani, tetapi mengharamkan menikah dengan wanita musyrik, yaitu wanita yang menganut agama ardli seperti Hindu, Budha, Kong Fu Tse, Sinto, Shik, Kejawen, dan lain-lain serta mereka yang secara terang-terangan menyembah berhala.
Firman Allah swt.:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik dari wanita musyrik sekalipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita muslim) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari pada wanita musyrik sekalipun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221).
“Pada hari ini dihalalkan bagi kamu (semua) yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi kitab (Ahlu Kitab) halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. Dan dihalalkan (mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari Ahli Kitab sebelum kamu bila kamu telah membayar maskawin kepada mereka dengan maskud
menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik.” (QS. Al-Maidah: 5).
Kasus di atas masalahnya cukup kompleks, si wanita sebelumnya telah terjerumus pada lembah nista, dia telah banyak melakukan kemunkaran dengan pacarnya. Di samping itu telah banyak melanggar tatak-rama keluarga bahkan sama sekali tidak memperhatikan pertimbangan ayahnya. Hingga pada akhirnya dia tertipu yang ternyata laki-laki tersebut hanya pura-pura Islam. Lebih tragis lagi, dia terlibat pembunuhan.
Banyak gadis dan wanita modern dalam masyarakat kita sekarang terlampau mudah menyerah diajak melakukan hubungan seksual, yaitu mengadakan seks bebas dan melakukan cinta bebas. Menurut Psikolog Kartini Kartono (1989), tidak berdayanya wanita menolak ajakan hubungan seks bebas ini pada umumnya disebabkan karena:
1. Ketidakmampuannya mengekang nafsu sendiri; kontrol diri yang lemah.
2. Dominannya sifat-sifat infantil/kekanak-kanakan dan sangat naif.
3. Juga disebabkan oleh ketidakmampuan menahan diri untuk menerima kenikmatan-kenikmatan seks kecil yang segera, dan mengorbankan kenikmatan seks yang lebih besar di kemudian hari dengan suami dalam ikatan
perkawinan yang sah. Jika dorongan-dorongan seksual tadi tidak terkendalikan lagi, maka tingkah laku gadis dan wanita tersebut jadi liar tidak terkekang.
4. Seks bebas mungkin juga disebabkan oleh motif-motif narsisme ekstrim, yang kemudian berkembang menjadi nafsu petualangan cinta yang tidak mengenal rasa puas, dan senantiasa “haus cinta”. Lama-kelamaan berkembang menjadi hiperseks.
5. Seks bebas juga bisa didorong oleh: masokhisme yang sangat kuat dan menjurus pada tendens patologis. Yaitu, senang jika dirinya diperhina, dipermainkan dan ditinggalkan oleh para “kekasihnya”.
6. Motif lainnya ialah: dorongan rebeli atau dorongan pemberontakan; yaitu keinginan untuk memutuskan rantai-rantai kewibawaan dan kekuasaan orang tua atau belenggu larangan tradisional yang dirasa mengikat. Dengan sengaja wanita muda tersebut berani menunjukkan “kedewasaannya” dengan melakukan intervernsi-agresif dalam bentuk relasi seks bebas, seperti kaum pria yang hipermodern. Mereka itu melampiaskan impuls-impuls agresif seperti laki-laki, dengan melakukan seks bebas yang intensif, dan dirangsang oleh unsur balas dendam, dalam bentuk aktivitas ketidaksetiaan pada kekasih dan suaminya.
Terlepas dari unsur seks bebas yang pernah mereka lakukan, kisah di atas seolah sebuah peringatan bagi mereka yang atas nama cinta rela mengorbankan agamanya. Sementara itu pihak laki-laki yang pura-pura Islam umumnya memanfaatkan kelemahan si wanita. Tak jarang si wanita lantas mengikuti agamanya karena takut dicerai. Padahal secara syar’i, tatkala suaminya kembali pada agamanya semula, maka pernikahan itu sudah batal.

Salam Ikhlas Tizar Rahmawan

Kisah Ke-4 Romantika Cinta Buta

Kisah Ke-3
Orang bilang cinta itu buta. Bagiku, cinta tidak buta, tapi kadang kita dibutakan oleh cinta. Perasaan cinta yag membabi-buta itulah awal dari penderitaan saya. Padahal saya datang dari keluarga terhormat. Orang tuaku memegang teguh aturan Islam. Saya sendiri sadar, mengorbankan keinginan orang tua adalah pengorbanan sia-sia. Namun saya telah dibutakan oleh cinta.
Perkenalan aku dengan si dia sejak SMU kelas II. Cinta itu makin melekat hingga kami kuliah, kebetulan kami sepakat mengambil almamater sama di Bandung. Dia baik, sekalipun berbeda agama, tapi dia menghargai perbedaan itu.
Orang tua tidak merestui saya hubungan dengannya. Saya yakinkan bahwa suatu saat dia akan masuk Islam, namun ayah tetap tidak setuju. Alasannya bukan semata beda agama, tapi juga dia berlainan etnis. Dia keturunan Tionghoa (Cina), sementara aku Sunda tulen.
Pacarku memahami penolakan ayah. Tapi kami tetap berjalan, perasaan cinta kami sulit dipisahkan. Saya tahu, wanita Islam haram nikah dengan laki-laki non Islam. Namun
aku nekad, kadang berontak terhadap orang tua yang saya nilai terlalu mencampuri urusan kami. Secara tidak sadar, saya banyak membantah orang tua. Saya sendiri menjadi lebih permisif dalam bergaul. Kadang saya ngantar dia ke gereja. Kadang saya heran, dia sering bilang ingin pindah agama tapi makin dekat saja dengan agamanya.
Dia orang berada, setiap Minggu saya selalu diajak jalan-jalan, nginap di hotel. Bahkan kini saya cuek kemana pun tidak pernah bilang orang tua. Keluarga saya nampaknya telah menganggap itu hal biasa bagi saya. Saya sudah dianggap anak yang bandel. Seolah orang tuaku telah membuangku. Tapi aku masih tetap berhubungan baik.
Awal tragedi yang sesungguhnya tidak saya sadari ketika pertama kalinya kami berhubungan badan. Dia berjanji pasti menikahi saya. Hubungan kami nampaknya sudah sangat jauh. Cinta kami sulit dipisahkan oleh apa pun.
Memang sekalipun aku dari keluarga taat, tapi aku Islam KTP. Jangankan menjalankan ibadah, aku justru sering melakukan maksiat bersama pacarku; pakaian super ketat, mini, telanjang dada, aku mabuk di diskotek, pub atau bar. Kehidupan menurutku lumrah di zaman modern ini. Lagipula aku tidak pernah mengeluarkan uang bahkan biaya kuliahku ditanggung pacarku.
Menginjak semester lima, kami menikah, dia mengucapkan dua kalimah syahadat di depan ayahku. Pernikahan saya hanya disaksikan sebagian kecil keluarga dari kedua belah pihak. Tidak ada iringan pengantin apalagi pesta, namun yang penting resmi dan orang tua menyaksikan. Tapi entah kenapa, ayah menyarankan agar kami segera pindah rumah. Ayah masih setengah hati menerima kami. Bagi ayah, bermenantukan orang Cina adalah aib bagi keluarganya.
Aku menempati rumah baru. Aku ingin menjadi isteri yang baik sekaligus mendidik suami tentang Islam. Namun setiap aku memberi wejangan tentang ajaran agama yang baik, dia tersenyum sinis. Dia mengatakan tidak percaya semua itu, buktinya sering dilanggar. Saya sadar, saya sendiri tak pernah kelihatan shalat bahkan dulu sering melakukan dosa besar seperti mabuk dan zina. Saya malu sendiri.
Saat aku mengandung, saya dapatkan suami mabuk berat. Namun aku tetap sabar melayaninya. Kadang aku rindu orang tua yang setahun ini tidak pernah menelphon apalagi menengok saya. Saya yakin orang tua marah.
Saya juga mulai kesal, rumah tangga bahagia yang didambakan hanya tinggal impian belaka. Suamiku makin menjadi-jadi. Puncaknya, dia pernah kepergok menggandeng wanita lain yang satu etnis. Ketika aku tanya baik-baik, dia
marah. Katanya, saya tidak boleh mencampuri urusannya. Terus terang saya tersinggung. Tapi tak kuasa melawan. Namun ibarat semut, jika diinjak, pasti akan melawan. Aku merasa tidak dihargai sebagai Istri. Emosiku meledak saat dia dikabarkan nikah lagi di sebuah gereja. Ternyata benar, seminggu ini dia tidak pulang.
Saat aku tanya dia malah membantingku, aku terjatuh dan kandunganku mengalami pendarahan, untung saja tidak keguguran. Belas kasihan, raca cinta, sayang dan janji sehidup-semati yang dia janjikan saat pacaran dulu, kini tinggal kenangan. Saat aku menderita di rumah sakit, dia malah cuek saja. Setelah mengantarku, dia sendiri pergi entah kemana dan tak pernah menjengukku.
Ada perasaan berdosa telah menentang orang tua. Ternyata, dia hanya pura-pura masuk Islam. Aku sendiri dulu merasakan ada ketidakberesan dalam pergaulan, namun saat itu aku masih dibutakan cinta. Kini hatiku terbuka, aku sadar. Walau terlambat, namun setidaknya ada waktu untuk memperbaiki diri.
Dalam jeruji besi, aku memunculkan kembali akal sehatku setelah terbelenggu cinta buta. Aku menyesal ada di sini, namun membunuh laki-laki durjana itu adalah kepuasan bagi saya. Wanita mana yang tahan melihat suami bercumbu dengan wanita lain di depan mata kepala saya sendiri. Yang
paling menyakitkan, perilaku menjijikkan itu dilakukan di kamar saya sendiri. Bahkan bukannya menyesal, malah mengusirku. Kesabaranku musnah, saat menusuknya beberapa kali dengan pisau dapur, saya merasa bumi telah kiamat.
Tugasku kini melahirkan si jabang bayi yang sebentar lagi akan keluar. Walaupun dia harus lahir di penjara, namun mudah-mudahan dia tidak mengikuti jejak ayah dan ibunya.

Kisah Ke-3 Menghitung Hari


Tidak ada manusia yang paling malang selain Aku. Hidup bertemankan sepi. Detik-detik kematian menunggu di depan mata. Tubuhku hancur, masa depanku sirna dan aku tidak boleh lagi bercita-cita apalagi menikmati hidup, padahal aku masih sangat muda. Yang sangat menyakitkan, tidak ada yang peduli nasibku bahkan keluarga pun malu mengakuiku sebagai anggota keluarga. Kini aku tinggal menghitung hari, menunggu saat ajal menjemput.
Usiaku kini menginjak 26 tahun. Lahir dari keluarga berantakan sebagai anak sulung dari empat bersaudara dan aku satu-satunya wanita. Ayah beristrikan tiga dan aku dari ibu yang kedua. Kata orang, aku sendiri lahir saat pernikahan itu belum dilangsungkan. Harta yang menyebabkan ayahku bebas melakukan perselingkuhan. Sebagai pengusaha sukses, dia bisa menutup mulut seluruh istri-istrinya untuk tidak rewel tentang keberadaan dirinya.
Ditinjau dari latar belakang pendidikanku sukses. Sekalipun tidak tamat sarjana, tapi pendidikan formal lainnya sukses aku jalani. Selain itu aku menekui bidang modeling
dan public relation lewat berbagai kursus atau pendidikan non formal.
Namun sayang, keluargaku nyaris tidak pernah memberiku pendidikan agama. Kehidupan rumah tangga hanya berkutat seputar materi dan hura-hura. Aku tidak pernah melihat ibu shalat begitu juga ayah dan anggota keluarga lainnya, kecuali shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang setahun sekali itu. Itulah biang kehancuran saya kini.
Awal tregedi hidupku, saat pertama kali nonton film porno bersama ayah dan ibu. Waktu itu ayah mengira aku sudah tidur, padahal pura-pura tidur. Bahkan aku melihat “adegan” sesungguhnya yang diperagakan ayah dan ibu sehabis nonton film itu. Ada perasaan tak karuan dalam diriku, aku merinding, takut dan di sisi lain ingin mencoba. Itu terjadi saat aku masih SLTP kelas I.
Akibatnya tumbuh sebagai anak yang cepat dewasa. Sekali-kali aku mencuri berbagai video porno milik ayahku dan aku tonton sendiri saat seluruh keluarga tidak ada di rumah. Nafsu birahiku terus memuncak, padahal aku masih sangat belia. Puas nonton sendiri, aku ngajak salah seorang teman bermainku yang juga anak laki-laki dari istri ayah yang pertama. Dia lebih tua tiga tahun dari saya. Saat film masih berjalan, namun aku terlanjur terangsang dan diam saja
ketika dia menggerayangi seluruh tubuhku hingga aku menikmati keperawananku direnggut saudara tiriku itu.
Kejadian itu terulang, kali ini dia yang mengajakku dan cenderung memaksaku untuk sama-sama nonton film itu lagi. Kembali untuk ke sekian kalinya aku melakukan hal yang belum layak aku lakukan. Perilaku bejat itu aku lakukan hingga aku menginjak kelas III SLTP, berarti telah berselang setahun setengah. Aku pun pernah “melakukan” di hotel dan tempat wisata bersama dia jika lagi libur. Aku pun telah menghabiskan puluhan pil KB (pil anti hamil) sesuai kesepakatan berdua.
Saat aku kelas III, ayahku menceraikan istri pertama yang juga ibu dari pasangan “kumpul keboku” itu. Tak lama kemudian mereka sekeluarga pindah ke rumah keluarganya di Jakarta tanpa aku tahu di mana alamat lengkapnya. Hampir enam bulan aku tak melakukannya, namun aku sering masturbasi. Baru ketika liburan semester, aku menikmati lagi saat camping dengan pacar baru kelas III SMU. Hingga lulus SLTP aku hanya melakukannya tiga kali; sekali saat camping itu dan dua kali di rumah saat dia membantuku mengerjakan PR. Akhinya kami putus karena dia melanjutkan kuliah di luar Bandung.
Suatu hari ayahku membawa seorang wanita muda saat itu ibu lagi ke Tasik. Ayah bilang dia sekretarisnya.
Namun ternyata dia pelacur papan atas (hostest). Dia memaparkan semuanya kepadaku termasuk liku-liku untuk menjadi seperti dia. Dia bilang aku sangat manis, cantik dan seksi. Dia tidak percaya aku baru kelas I SMU karena tubuhku bongsor. Saat ayah pulang dari beli makanan baru aku masuk lagi ke kamar.
Malam Minggu, sesuai dengan yang dia katakan, aku jalan-jalan ke berbagai tempat yang disinyalir tempat mangkal para gadis muda yang berprofesi sebagai pelacur muda. Aku kaget ternyata sekitar Jalan Dago, Cibadak, Sudirman, Cihampelas, dan Braga berjejer para wanita, kebanyakan masih muda yang lagi menawarkan “sorga”. Di sekitar jalan itu memang banyak tempat hiburan. Yang mengherankan, di Braga banyak yang melakukannya di mobil, sehingga dikenal dengan “mobil bergoyang”.
Aku juga coba premium call yang menurut dia sarana transaksi seks. Ternyata semuanya benar, lewat telephon itulah saya bisa dapatkan teman kencan sebanyak-banyaknya. Hasilnya aku dapatkan teman banyak yang semuanya sewaktu-waktu bisa saya ajak kencan. Mulai saat itu entah sudah berapa orang yang pernah tidur denganku di berbagai hotel, padahal waktu itu aku masih anak II SMU. Dengan teman SMU pun aku sering melakukannya, prinsipnya
ARDATH atau Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil. Kegilaan itu saya alami hingga lulus SMU.
Menginjak bangku kuliah pengalamanku di dunia hitam makin luas. Aku menjadi “ayam kampus”. Aku terdaftar di sebuah hotel berbintang sebagai wanita muda yang sewaktu-waktu bisa dipanggil. Uangku semakin banyak karena mereka yang “tidur” denganku di hotel, umumnya para pengusaha atau pejabat yang yang lagi kesepian karena tugas luar daerah atau memang orang setempat yang kelebihan uang. Aku pernah ditawari sebagai bintang film panas oleh salah seorang produser yang pernah tidur denganku, tapi aku menolak karena sibuk. Dari banyak laki-laki itu kebanyakan aku melayani para pengusaha keturunan Cina dan sekali-kali orang bule.
Petualanganku semakin jauh hingga tak terasa aku telah menginjak tingkat tiga. Nilai mata kuliahku tergolong bagus, jika ada dosen yang doyan uang, aku sogok atau aku gunakan rayuan maut. Hingga menginjak tingkat empat atau semester tujuh, aku mulai merasakan kelelahan yang sangat, aku malas kuliah. Akhirnya aku cuti dulu dua semester, namun pekerjaan rutinku sebagai “ayam kampus” tetap berjalan.
Nampaknya aku keasyikan, dua semester bahkan tiga semester aku lalui, aku kaget saat pengumuman mahasiswa
yang di-DO termasuk aku. Tapi aku tak ambil pusing karena diam-diam aku kursus modeling dan public relation. Aku ingin menjadi artis sungguhan atau nantinya aku ingin berhenti berpetualang seks dan akan memilih pekerjaan baik-baik.
Saat usiaku menginjak 24 tahun kelalahanku semakin menjadi-jadi. Aku sering memeriksakan diri ke rumah sakit, dokter bilang, saya hanya perlu istirahat. Yang aneh, flu sulit sembuh. Menginjak usia 25 tahun aku mendapatkan bintik-bintik di sekitar tubuhku yang lama-kelamaan menjadi luka.
Aku periksakan ke dokter ahli kulit hasilnya tidak memuaskan. Hingga suatu waktu aku periksa ke dokter ahli kelamin, aku kaget, katanya aku mengindap penyakit mematikan. Aku periksa lagi ke dokter yang lebih ahli di rumah sakit besar, ternyata aku terinfeksi HIV positif dan hanya berselang beberapa tahun kemudian akan berubah jadi AIDS. Kata dokter, tanda-tanda AIDS sudah mulai nampak. Aku dirawat di rumah sakit besar dalam ruangan khusus yang sepi dan terisolir, bahkan dokter pun tak aku kenali wajahnya karena seluruh tubuh ditutup.
Kata dokter, aku terinfeksi HIV kira-kira 7 tahun yang lalu dan terus mengalami masa inkubasi sampai sekarang. Mungkin saat aku semester III, saat itu aku sering
melayani bule. Bahkan seminggu di Bali, hampir tiap malam bule-bule itu yang aku layani.
Semenjak itu aku murung, penyakitku terus bertambah. Rasa sakit di seluruh tubuhku sudah teramat sakit. Makin hari aku semakin tak bertenaga. Kecantikan dan keseksian yang aku miliki dulu, kini tingggal kenangan. Aku sadar ini kutukan buatku. Ingin rasanya aku ibadah, tapi tubuhku sulit bergerak dan aku tak bisa bagaimana shalat itu, yang aku lakukan hanya berdoa semoga Tuhan mau memaafkan diriku.
Keluargaku semenjak tahu aku terkena AIDS, tidak pernah melayatku ke rumah sakit bahkan kabarnya mereka malu mengakuiku sebagai kaluarga. Dalam usiaku ke-26 aku benar-benar sendiri, tubuhku makin rapuh, malaikat Izrail telah siap di sampingku.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kisah Ke-2 Racun Berbalut Madu

Aku dilahirkan bukan untuk jadi sampah masyarakat. Namun keluarga dan lingkungan memaksaku menjadi sampah. Dalam kehancuran aku sadar, masa depan ditentukan oleh diriku sendiri.
Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Waktu aku SD saudara-saudaraku telah menikah dan pindah rumah. Sekalipun uang bukan masalah, namun kehidupanku ibarat anak gembel. Aku besar dalam keluarga berantakan. Ibu sibuk dengan urusan pribadinya ayah asyik dengan karirnya. Sementara aku hidup sebatang kara. Rumah mewah yang aku diami tak lebih dari kuburan yang sepi.
Aku diberi rekening bank tersendiri oleh ayah yang jumlahnya sangat besar untuk ukuran anak ingusan sepertiku. Uang itu setiap bulan ditambah oleh ayah dengan jumlah yang cukup besar. Apalagi jika tahu aku harus membayar ujian atau EBTA, transfer itu bisa sangat besar. Dimaksudkan agar keperluanku terpenuhi baik uang sekolah, jajan, maupun pakaian dan aku tidak boleh meminta lagi secara langsung.
Perkenalanku dengan minuman keras sejak SMP kelas II. Sejak kelas I aku telah merokok. Saat itu tak sengaja aku menemukan botol aneh di kamar teman yang juga orang berada. Aku disuruhnya mencoba untuk menghilangkan stres. Awalnya tidak enak, namun lama-kelamaan aku ketagihan. Namun lambat-laun minuman itu kurang berkesan, selain mudah diketahui orang tua, juga baunya dapat dihirup orang lain.
Suatu saat salah seorang teman saya menawarkan lintingan semacam rokok yang ternyata ganja. Perkenalanku dengan ganja membuatku mabuk kepayang karena barang itu mengasyikkan dan bisa membawaku terbang (fly). Namun saat aku ingin mencoba lagi, barang tidak ada karena bandar sekaligus pengedarnya tertangkap polisi. Aku kembali lagi ke miras dan mencoba berbagai jenis.
Ayah mengetahui perilaku burukku. Pertengkaran besar antara ayah dan ibu kembali terulang, keduanya saling menyalahkan. Bahkan ayah menyalahkan sekolah yang dianggapnya tidak mampu mendidik yang benar. Uang jajan akhirnya dibatasi dan ayah mengawasiku dengan ketat. Namun karena kesibukannya akhirnya aku bebas kembali.
Perkenalanku dengan heroin saat pesta kenaikan kelas dari kelas II ke kelas III. Saat itu di salah satu rumah temanku, aku diajari nyepet (tatacara memasukkan suntikan)
sekaligus aku diberi sebungkus kecil heroin. Menurutku barang ini lebih gila dari ganja dan shabu-shabu. Heroin jenis putaw itu memberiku fantasi yang lebih mengasyikkan dan cukup tahan lama.
Lambat-laun aku kecanduan. Heroin itu menjadi menu wajib bagiku, karena jika sekali saja tidak ada, aku bisa menderita (sakau). Untuk mendapatkannya, aku biasa mangkal di salah satu diskotek kota Bandung. Di sana telah menunggu pengedar langgananku. Sekaligus aku juga bisa menjumpai wanita spesialku. Jika dihitung-hitung, sehari aku bisa menghabisakan uang 2 juta rupiah; untuk putaw kurang lebih 300 ribu rupiah, bayar hotel dan biaya sewa kopyor untuk longtime (semalam suntuk). Belum lagi jika mentraktir teman, akubisa menghabiskan 3 juta rupiah sampai 4 juta rupiah sehari. Tapi uang bagi kubukan masalah. Hampir setiap malam Minggu aku rutin ke tempat itu dan nginap di hotel. Khusus untuk malam Minggu ayah memberi kebebasan untuk ke luar rumah sampai kapan pun, asal Minggu sore harus kelihatan di rumah lagi.
Miras, ganja, heroin, shabu-shabu, dan ecstasy telah aku coba. Hotel-hotel telah aku singgahi. Kopyor (sebutan untuk wanita muda kaya yang kesepian) telah banyak aku nikmati. Namun tempat ini masih asing bagiku. Infus di samping kiriku dan berbagai peralatan kedokteran siap di
samping kananku. Samar-samar aku lihat dokter tengah bincang-bincang dengan kakakku, tak lama kemudian aku lihat ayah dan ibu bersandar di dinding. Tapi aku tak bisa bergerak, tatapan mataku kosong, mulutku tertutup rapat, dan seluruh tubuhku sangat kaku.
Lama-kelamaan kesadaranku mulai pulih, aku overdosis heroin. Menurut suster, aku dibawa ke rumah sakit ini oleh teman-teman sekolahnya. Aku baru ingat, saat itu aku tengah pesta perpisahan dengan teman-teman sekolahanku di rumah Rudi teman dekatku.
Pesta perpisahan itu sebenarnya terlalu dini karena siapa saja yang lulus belum diumumkan. Aku baru sadar, aku tengah berada di kondisi yang sangat gawat. Teman-teman mengira aku sudah mati karena mulutku terus berbusa. Sebulan menjalani perawatan, namun dokter belum memastikan kesembuhanku. Inginnya aku berlari, namun tubuhku kaku.
Dua bulan aku dirawat selanjutnya dipindahkan ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Setelah cukup pulih, aku dititipkan di salah satu lembaga terapi ketergantungan obat terlarang. Dari semenjak masuk rumah sakit hingga singgah di tempat terapi ini menghabiskan waktu 10 bulan. Akhirnya aku pulang dalam pengawasan ketat seluruh keluargaku.
Di rumah aku meminta maaf pada seluruh keluargaku terutama ayah dan ibu karena telah merepotkan mereka. Sebelumnya ayah sempat marah-marah karena aku merusak nama baik keluarga dan menghancurkan masa depan sendiri.
Aku sadari, miras dan obat-obat terlarang itu telah merenggut semuanya dariku. Tubuhku hancur terutama memori otakku telah cacat dan sulit disembuhkan. Masa depanku tidak jelas, aku dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang kelas III, itu juga tidak di sekolah itu lagi (kasarnya aku dikeluarkan). Aku tidak memiliki teman lagi. Terakhir, seluruh keluargaku menanggung beban yang cukup berat. Ayah sebagai anggota dewan salah satu parpol, merasa dipermalukan.
Hampir saja aku putus asa, tapi kakakku yang kedua kebetulan sebagai dosen memberi semangat hidup kepadaku. Kini aku tinggal di rumahnya dan mendapat bimbingan masa depan sekaligus mengisi hatiku dengan iman.